Selasa, 17 Januari 2012

♥.•♥Rahsia KeMANISan Rumahtangga♥.•♥


 Harmonis Dengan Canda
"Mas, itu ada tukang bakso
lewat!" ujar seorang istri pada
suaminya. "Stttt... biarkan Dik, dia
kan sedang usaha. Jangan
diganggu!"
Mendengar ucapan suaminya
tentu saja sang istri merasa
gemas lalu mengejar sang suami
yang ingin dicubitnya. Si suami
tentu saja senang berhasil
mencandai istrinya. Meski agak
dongkol sang istri pun tertawa-
tawa cukup lama.
Apakah anda senang bercanda
dengan pasangan Anda, atau
apakah pasangan anda senang
menajak bercanda? Kalau
jawabannya jarang atau bahkan
tidak, berhati-hatilah. Beberapa
tes untuk mengukur sejauh
mana keharmonisan suatu
hubungan pernikahan
senantiasa menjadikan "ada
tidaknya canda" sebagai salah
satu parameter. Kurangnya
canda dan gurauan di antara
suami istri bisa menunjukkan
kurang harmonisnya kehidupan
rumah tangga.
Setiap orang tentu
menginginkan hubungan
pernikahannya harmonis hingga
akhir hayat. Namun tak setiap
pasangan dapat
mempertahankan keharmonisan
rumah tangganya, bahkan
banyak yang berakhir dengan
perceraian. Alasan perceraian
"sudah tidak ada kecocokan"
sebenarnya berarti sudah
hilangnya keharmonisan dalam
rumah tangganya.
Banyak faktor yang
mempengaruhi hilangnya
keharmonisan diantara
keduanya. Diantara faktor yang
paling penting yaitu komunikasi.
Jika komunikasi mengalami
hambatan bisa mempengaruhi
hubungan suami istri.
Suami istri perlu membiasakan
suasana komunikasi yang akrab
dalam keseharian bahkan dalam
menentukan berbagai keputusan
penting dalam rumah tangga.
Suami dan istri harus saling
menghargai pendapat masing-
masing. Tak sepantasnya suami
mendoktrin istri, atau bahkan
meremehkan pendapatnya.
Demikian juga sang istri
sebaiknya tidak mendominasi
pembicaraan. Suasana dialogis
perlu dikembangkan untuk
menjaga keharmonisan rumah
tangga.
Rasulullah adalah teladan baik
sebagai seorang suami dalam
menjalin komunikasi dengan
keluarganya. Beliau tak segan
mendengarkan pembicaraan istri
tanpa memotong, menyela
bahkan menghentikannya.
Sebagai contoh, suatu malam
Aisyah menuturkan kisah yang
amat panjang tentang sebelas
orang wanita di zaman jahiliyah
yang menceritakan suami-suami
mereka.
Diceritakannya satu persatu
cerita dari para wanita itu dari
mulai satu hingga ke sebelas.
Selama Aisyah bercerita
Rasululah menyimaknya dengan
baik. Aisyah merasa bebas
bercerita kepada Rasul Allah SAW
tanpa khawatir dipotong dan
diacuhkan oleh beliau. Bahkan
Rasulullah terlihat betah
mendengar cerita Aisyah yang
panjang lebar itu. Setelah selesai
barulah beliau memberi
komentar secukupnya. Dari kisah
itu kita bisa melihat suasana
komunikasi dalam keluarga yang
baik dan lancar.
Rasulullah adalah juga sosok
suami yang sangat
memperhatikan kebutuhan
batiniah istrinya. Rasulullah
senantiasa mengupayakan
suasana yang menyenangkan
dan selalu ingin menghibur
perasaan istrinya. Aisyah yang
terpaut usia sangat jauh tidak
dipaksa melulu untukmengikuti
pola dan irama hidup Rasulullah
sebagai pemimpin umat. Ada
saat-saat di mana Rasulullah
mengkondisikan suatu suasana
dan situasi demi menyenangkan
perasaan Aisyah. Nabi
mengundang beberapa anak
gadis Anshar untuk bermain-
main dengan Aisyah.
Dibiarkannya Aisyah bemain
memuaskan hatinya. Hubungan
harmonis Rasulullah dengan
Aisyah pun terlihat dari sikap
masing-masing terhadap
pasangannya.
Aisyah pernah menyaksikan
orang-orang Habsyah yang
sedang bermain pedang di
mesjid sebagai bentuk latihan
menghadapi peperangan. Sambil
menonton Aisyah bersandar di
pundak beliau. Selama itu beliau
tidak beranjak sampai Aisyah
sendiri yang menginginkan
pergi. Demikian juga Rasulullah
kerap menyandarkan kepala di
pangkuan Aisyah sambil
membaca Al Quran.
Rasulullah bahkan pernah
berlomba lari dengan Aisyah.
"Rasulullah berlomba denganku
hingga aku dapat
mendahuluinya, sampai ketika
saya menjadi gemuk beliau
berlomba dengan aku dan beliau
mendahului aku. Lalu beliau
tertawa dan berkata, "Kali ini
untuk menebus yang dulu" (HR.
Ahmad dan Abu Dawud)
Untuk menciptakan suasana
harmonis Rasulullah gemar
bercanda dengan istrinya.
Meskipun beliau banyak
mengalami kesedihan, beliau
suka bergurau. Beliau menyertai
istrinya dalam tertawa. Pada
suatu kali, saat membuat roti,
dua orang istri Nabi yaitu Aisyah
dan Saudah bercanda saling
melumurkan adonan tepung ke
wajah, dan Rasul turut serta
bergembira bersamanya (HR.
Bukhari).
Rasulullah pun menganjurkan
bergurau pada sahabatnya.
Rasulullah pernah berkata
kepada Hanzhalah ketika.
Hanzhalah merasa sedih melihat
perubahan sikapnya
(keadaannya) sendiri yang
berbeda ketika berada di rumah
dan ketika bersama Rasulullah
saw, sehingga ia menganggap
dirinya munafik.
Maka Rasulullah bersabda,
"Wahai Hanzhalah kalau kamu
terus menerus dalam keadaan
seperti ketika kamu bersamaku,
niscaya kamu akan disalami oleh
malaikat di jalan-jalanmu. Akan
tetapi, wahai Hanzhalah,
berguraulah sekedarnya."
Canda dan gurauan memang
diperlukan dalam menjalin
komunikasi yang akrab
khususnya antara suami dan
istri. Suasana tegang dan
hubungan yang kaku dan
hambar dapat dicairkan dengan
gurau dan canda.
Menurut beberapa penelitian
humor atau canda dapat
menghindari stress dan
timbulnya serangan jantung.
Senyum dan tawa akan
mengedurkan tegangnya urat
syaraf. Persoalan rumah tangga
yang kadang pelik dan rumit
harus dihadapi dengan rileks.
Pernikahan bukan sekadar
kontrak sosial dimana suami istri
terikat dengan peraturan dan
hubungan kaku. Sebaiknya
dibangun suatu relasi dan situasi
yang yang nyaman dan
menyenangkan di mana setiap
pasangan dapat menikmati hari-
harinya.
Dalam saling menasihati antara
suami istri, canda dan humor
juga sangat dibutuhkan. Menurut
Abdullah Nashih Ulwan nasihat
yang disertai humor dapat
menggerakkan rasio,
menghilangkan jemu dan
menimbulkan daya tarik. Nasihat
yang menggurui dan kritik yang
tajam akan sangat berlainan
dampaknya dibanding dengan
nasihat dan kritik yang
disampaikan dengan canda.
Canda akan mengurangi resiko
munculnya perasaan
tersinggung. Canda memang
dapat menciptakan suasana
komunikasi yang kondusif dalam
rumah tangga sehingga ikatan
pernikahan senantiasa harmonis.
Namun perlu diingat bahwa
canda harus betul-betul
diniatkan untuk menyenangkan
perasaan pasangan, bukan untuk
menyinggung perasaannya.
Insisiatif meyenangkan hati
pasangan ini jangan hanya
muncul dari salah satu fihak,
melainkan harus dari keduanya.
Istri maupun suami pun harus
menghargai upaya pasangannya
dalam menyenangkan hatinya
sehingga ia akan merasa terpacu
dan terpanggil untuk selalu
menyenangkan hati
pasangannya.
"Sesungguhnya hati itu bisa
bosan sebagaimana badan pun
bisa bosan (letih), karena itu
carikanlah untuknya hiburan
yang mengandung hikmah." (Ali
karamallahhu wajhah).
Wallahu a'lam.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

:::***:::iNi ImPiAn Q :::***:::