Isnin, 25 Jun 2012

APA TANDA KITA DEKAT DENGAN ALLAH?

Ketika suluk (perjalanan keruhanian) berakhir, seorang Khalifah Senior (umur Beliau lebih kurang 65 tahun) duduk diantara para peserta suluk dengan gaya santai setelah selesai bergotong-royong membersihkan surau baik di bagian dalam maupun bagian luar. Selaku orang yang baru dalam Tarekat, pengalaman-pengalaman murid-murid senior dari Guru sangat menyenangkan untuk didengar dan banyak sekali pelajaran yang bisa diambil karena yang mereka ceritakan bukan hasil dari bacaan tapi merupakan pengalaman nyata. Dalam suasana penuh keakraban, khalifah senior bertanya kepada khalifah yang lain, “Abang-abang sekalian, apa tanda kita dekat dengan Tuhan?”.

Demikian khalifah senior bertanya kepada kami yang masih muda dan memang di surau sangat dijaga hadap (sopan santun) walaupun usia kita lebih tua tetap memanggil Abang kepada saudara seperguruan. Pertanyaan sederhana itu tidak ada yang bisa menjawab, semua diam dan memperhatikan dengan seksama wajah dari khalifah senior tersebut. Saya hadir disitu dan peristiwa itu lebih kurang 10 tahun yang lalu. Khalifah Senior dengan senyum berkata, “Semakin dekat kita dengan Tuhan maka semakin kita tidak bisa meminta kepada-Nya, seorang yang dekat dengan Tuhan ibarat seorang bayi dipangkuan ibunya, dia tidak pernah berprasangka buruk kepada ibunya, apakah ibunya memberikan makan atau tidak, membiarkan dia haus atau bahkan ibu membuangnya begitu saja, dia tetap pasrah dalam pangkuan ibunya”

Kata-kata Khalifah Senior itu sangat berbekas dalam hati saya dan kata-kata ini memberikan sebuah kesadaran kepada saya bahwa sampai saat ini saya belum dekat dengan Tuhan karena begitu banyak permintaan dalam doa, begitu banyak pula hasrat untuk menggengam dunia ini. Keluhan kalau mengalami sakit dan derita menandakan kita belum dekat dengan Tuhan. Mungkin kita telah mengenal-Nya, telah bersimpuh dikaki-Nya, telah merasakan betapa nikmat memandang wajah-Nya namun kita masih tergolong orang-orang yang dekat dihati-Nya.

Lalu bagaimana dengan ucapan Nabi bahwa kita harus selalu meminta kepada Tuhan dan orang yang tidak mau meminta digolongkan kepada orang-orang yang sombong? Bagi orang yang jauh dari Tuhan maka dia akan selalu meminta untuk kepentingan dirinya, tidak pernah dia mau berdoa untuk orang lain.

Khalifah Senior tersenyum diantara kebingungan para jamaah suluk, kemudian saya memberanikan diri bertanya, “Abangda, kalau ukuran dekat dengan Tuhan tidak bisa meminta kepada-Nya, bagaimana dengan Guru kita yang selalu mendo’akan kita, bukankah Beliau juga meminta kepada Tuhan? Dan yang saya tahu Guru kita sangat dekat dengan Tuhan”

Masih dengan senyum yang khas Beliau berkata, “Anak Muda, Seorang yang dekat dengan Tuhan itu tidak bisa meminta untuk dirinya tapi doanya sangat makbul untuk orang lain dan dia selalu berdoa untuk orang lain, seperti Guru kita. Guru kita hanya memikirkan murid-muridnya, mana pernah Beliau berdoa agar diri nya kaya? Sudah puluhan tahun saya mengikuti Beliau dan saya tahu persis bahwa yang Beliau doakan hanya muridnya, ya… kita-kita ini yang selalu menjadi beban Beliau dan terkadang tidak tahu diri….” Ucapan terakhir tidak lagi disertai senyum namun dengan wajah sedih dan linangan air mata.

Beliau melanjutkan, “Kita ini lah yang harus mendoakan Guru kita, agar semua cita-citanya dikabulkan Tuhan, itulah bukti rasa cinta dan kasih kita kepada Beliau….”
“Berulang kali saya berbuat kesalahan kepada Beliau, tapi selalu Beliau memaafkannya ….”
Kemudian Khalifah Senior melanjutkan nasehatnya, “Jangan pernah abang-abang sekalian durhaka kepada Guru kita karena kalau durhaka kepada Guru tidak akan beruntung selama-lamanya…”

Setelah saya memahami hakikat Ketuhanan dan kebenaran dari Tariqatullah dan saya meyakini bahwa betapa hebatnya Ilmu zikir yang dapat mengantarkan orang kepada Allah, saya memberanikan diri untuk bertanya kepada Guru, “Guru, begitu hebatnya ilmu zikir dalam tarekat ini, kenapa tidak semua manusia mau mengikuti jalan ini?”
Guru tersenyum dan berkata, “Hanya sedikit orang yang bisa bersyukur….”
Saat itu saya tidak begitu paham dengan apa yang beliau sampaikan baru sekarang saya memahaminya, bahwa begitu banyak karunia diberikan oleh Allah kepada manusia namun sedikit sekali yang mau menyembah-Nya dengan cara yang benar, sedikit sekali orang yang sungguh-sungguh mencari jalan untuk kembali kepada-Nya, sedikit sekali orang yang bersyukur. Saya jadi ingat kisah Nabi yang shalat semalaman dan ketika ditanya oleh Aisyah kenapa Beliau shalat begitu banyak sampai kaki bengkak padahal Beliau sudah dijamin masuk surga dan nabi menjawab, “Aku ingin menjadi ABDAN SYAKURA (hamba yang pandai bersyukur)”

DARI 1000 ORANG, 999 MASUK NERAKA

Dari Abu Hurairah ra : dari Nabi saw sabdanya, “Jarak antara dua kali tiupan sangkakala itu lamanya ada empat puluh”
Para sahabat bertanya, “Hai Abu Hurairah, apakah empat puluh hari?” Ia menjawab, “Saya tidak tahu”
Mereka bertanya pula, “Apakah empat puluh bulan?” Ia menjawab, “Saya tidak tahu”
... Sekali lagi mereka bertanya, “Apakah empat puluh tahun?” Ia menjawab pula, “Saya tidak tahu”

Abu Hurairah ra lalu melanjutkan sabda Rosulullah saw : “Kemudian ALLAH menurunkan air hujan dari langit, lalu orang-orang yg telah mati itu tumbuh kembali sebagaimana tumbuhnya sayur-mayur. Tidak ada suatu anggotapun yg masih tertinggal pada manusia itu, semuanya telah hancur luluh, melainkan sepotong tulang saja yakni tulang ekornya dan dari tulang inilah tumbuh kembalinya seluruh tubuh manusia itu pada hari kiamat”

Sama berdiri memandang sambil menanti-nantikan. Setelah itu kepada mereka dikatakan, “Hai seluruh manusia, marilah semua pergi menemui Tuhanmu”. Kepada Malaikat yg menggiring mereka itu dikatakan, “Suruhlah mereka berhenti, sebab mereka itu akan ditanyai dahulu”

Sehabis itu lalu dikatakanlah, “Keluarkanlah untuk dikirim ke neraka”. Ditanya, “Dari berapa?”. Dijawab, “Dari setiap seribu ada sebanyak sembilanratus sembilan puluh sembilan orang”

Rosulullah saw melanjutkan sabdanya, “Itulah hari yg dapat membikin anak-anak menjadi tua beruban dan terjadilah bencana yg amat dahsyat”. (Aqidah Islam, 2001)
 


hubungan hati n amalan

Seandainya kamu diberikan WAJAH yang cantik/tampan,
BINALAH HATI secantik wajahmu agar Allah kurniakan TEMAN HIDUP yang BERHATI JERNIH..

Sabda Nabi s.a.w :
"Sesungguhnya Allah TIDAK MELIHAT rupa paras dan harta kamu, tetapi Dia melihat HATI DAN AMALAN kamu."
(HR Muslim)

:::: KHAS UNTUK GADIS-GADIS YANG SUKA "BERPOSING" DI FB ::::



kalau jadi.....

Kalau jadi manusia jangan jadi manusia BIASA,
yang longgar jiwanya,
yang rapuh imannya,
sempit mindanya,
gelap masa depannya..
...
Tetapi jadilah manusia yang LUAR BIASA,
yang gah jiwanya,
kental imannya,
tertib solatnya,
Al-Quran juadahnya,
luas pandangannya,
gemilang masa depannya..

Sesungguhnya jika ALLAH menyayangi hambaNYA,
akan diujinya..

Apabila dia bersabar,
maka besar hikmahnya,
dipermudahkan penyelesaiannya..

Apabila dia redha,
ALLAH mengasihinya,
dilapangkan hatinya,
dan dihiaskan wajahnya dengan KETENANGAN.

Tidakkah kita tahu ujian itu adalah didikan langsung dari ALLAH?
Contohilah Suri Tauladan yang ada pada diri Rasulullah SAW
itulah manusia LUAR BIASA yang sebenar-benarnya...

:::***:::iNi ImPiAn Q :::***:::